Surat Cinta Seorang Sahabat.
Untukmu, yang kini sedang mencari jati diri.
Aku tak pernah menyebut ini cinta karena cintaku
sendiri tak mampu kupahami. Aku tak menyebut ini sayang, karena takut ini akan
pudar karena kondisi. Pun aku tak menyebut ini kasih, karena kasih selalu ada
untuk menyertai. Rasa ini tak pernah masuk dalam daftar kategori di atas. Aku
menyebut ini pasrah dalam pengertian sebenar-benarnya pasrah. Jadi, jika
mungkin saja ini tak cukup membuatmu paham maka kau pun boleh melewatkannya.
Di
awal kisahku, aku tahu ini terlalu lancang bagi perempuan seusiaku. Tak apa,
aku tidak pernah menulisnya untukmu. Aku menulisnya untuk hatiku yang pada
detik ini telah patah lebih dahulu karena harus memilih hal yang tidak pernah
aku inginkan terjadi.
Mari,
aku ingin kau pulang kembali pada fitrahmu, pada Rahim yang memberimu
kepastian, pada Putera yang menjadikanmu ada.
Aku
hanya ingin bilang ini:
Seorang sahabat sejati memang harus mengirismu dengan
pisaunya, menusukmu berulang kali dengan pedang, dan menikammu dengan belati.
Itu pilihan karena asal kau tahu ketika ia memilih untuk melakukannya, ia telah
menusuk jantungnya jauh lebih dalam karena harus memilih membiarkanmu tetap
seperti itu atau berubah menjadi lebih baik. Pilihan itu menyakitkan tapi
pilihan yang benar untuk orang yang butuh pembelajaran sepertimu adalah menikam
lalu menamparmu agar kau sadar, kau telah keliru dengan cinta yang kau pikir
itu benar adanya.
Aku tahu bahwa kau tidak akan mengenal proses ketika
aku selalu bersamamu apalagi mendukung
keburukanmu. Kau salah besar ketika mengatakan kau telah tahu segalanya, karena
nyatanya kau pun telah belajar lebih banyak dariku bahwa semenyakitkan apapun manusia,
kau tetap harus berguru padanya. Tidak penting ia berpendidikan atau tidak,
berprinsip atau tidak atau malah kehadirannya yang tak terduga justru telah
membuatmu jatuh berkali-kali. Sejatinya, telah kukatakan, ia adalah berkat yang
harus kau syukuri. Tidakkah kau ingin tahu jawabannya?
![]() |
| Cermin |
Aku bosan mengatakannya. Aku tak perlu memberi tahu
apalagi mengguruimu karena kau telah cukup dewasa. Kau bahkan pernah berada di
dalamnya. Apa kau butuh lebih banyak penjelasan? Kau telah memiliki jawabannya
dan tanyakan itu pada hatimu sendiri.
Kalau kau berpikir itu masalahmu sendiri, maka kau
salah besar. Itu masalahku. Di tempat ini aku telah memilikimu dan itu artinya
masalahmu adalah masalahku. Aku tidak pernah memilih dengan siapa aku nantinya
akan berkembang, tapi Tuhanku lebih tahu semua itu. Aku memilih menjadi setan
bagimu agar kau menjadi malaikat tak bersayap yang mampu terbang kemanapun kau
mau. Kau boleh menganggapku buruk hari ini, itu urusanmu. Kau boleh mengatakan
bahwa aku jauh lebih pecundang darimu karena aku meninggalkanmu justru di saat
aku benar-benar tahu kau menginginkan keberadaanku. Tapi ingat, kau sendiri
yang mengajarkan padaku untuk membuat pilihan. Dan pilihan itu adalah mematikan
egoku sendiri meski aku tahu sakit sekali rasanya. Aku telah melewatinya dan
aku tidak ingin kau masuk ke dalam jurang yang sama, jurang dimana aku
melewatinya. Hidupku tidak akan lama lagi di tempat ini dan tantanganku
bertambah. Aku harus membuat pilihan sulit yang sebenarnya adalah pilihan
seorang pecundang. Tapi, memang seperti itulah sahabat sejati.
Hanya sahabat sejatilah yang sanggup dan bersedia
kapanpun untuk menjadi pecundang.
Sahabat sejati adalah pecundang bagimu agar kau
menjadi pemenang atas hidupmu sendiri, kau merdeka atas pilihanmu sendiri. Kau
tidak akan pernah mengerti proses dan kerasnya berjuang melawan ego sendiri
jika kau masih tetap berada di sini.
Sekali lagi kukatakan padamu, kau boleh menentangku
hari ini. Kau boleh tak setuju dengan pernyataanku. Aku tak peduli. Aku lebih
tahu bahwa kau bermasalah dengan dirimu, bukan dengan aku atau siapapun seperti
katamu.
Aku memilih menjadi setan bagimu agar cermin hidupku
menjadi petarung sejati, mengerti bagaimana seharusnya ia belajar dalam membuat
prioritas. Aku telah memilih, justru ketika aku mencintaimu, aku harus
melepaskanmu begitu saja seperti ayam kehilangan induk semangnya. Semuanya
kulakukan semata agar kau tahu, cukup dengan Tuhanmu sajalah kau boleh
berharap, bukan dengan aku apalagi dengan egomu.
Sahabat, kau tidak berhak mengatakan dirimu baik.
Kau pun tidak memiliki wewenang absolut dari Tuhanmu untuk menunjuk siapa yang
lebih baik, siapa yang lebih buruk atau siapa yang adalah pilihan Tuhan. Karena
ketika kau dilahirkan, kau sejatinya adalah pilihan itu sendiri.
Ingat sahabat…
Kau dilahirkan sebagai pemenang atas dirimu sendiri,
bukan dengan diriku atau dengan siapapun. Yang kau ubah adalah dirimu bukannya
aku. Tuhanmu telah memberikan pilihan bagimu untuk hidup, sekarang bagaimana
dengan dirimu? Apa kau pun ingin menjadi pemimpi sejati yang hanya dapat
bermimpi tanpa melakukan aksi?
Ah, kalau aku jadi kau, aku tak akan pernah sudi!
Yang membuatmu berlutut menyembah adalah pilihanmu,
bukan pilihanku. Karena, asal kau tahu saja hidup ini milik Tuhanmu seutuhnya.
Itulah sebabnya, kukatakan tanganmu terlalu kotor untuk menunjuk mereka yang
kau anggap lebih kotor darimu.
Hey, jangan lupa, hanya orang sakit yang membutuhkan
dokter, bukan orang sehat. Dan seorang dokter yang baik adalah dokter yang tahu
kapan ia harus mendengar ceritamu, kapan harus menghapus air matamu, kapan
harus memaksa dan kapan harus bertindak lebih kasar jika kau menolak perubahan.
Maaf… sekali lagi maaf. Aku terlanjur kasar di detik
ini, tapi biarkan aku sedikit berbicara. Kita ini manusia, kita adalah
iblis-iblis itu.
Guruku pernah bilang
“Semakin baik kita, semakin besar kemungkinan kita
untuk menjadi satu dari sekian iblis yang berkeliaran di bumi ini”
Kita harus terus belajar dan belajar untuk lebih
mawas diri dan hati-hati, juga terus jujur dengan diri sendiri. Sudah cukup
dewasakah kita saat ini?
Kau salah besar ketika mengira aku sedang menunjuk
jariku padamu. Bahkan ketika tanganku asyik menamparmu, kau harus tahu, di saat
yang sama aku telah menunjukkan padamu bahwa aku hanyalah manusia yang selalu
punya salah dan dosa. Kau tidak pernah tahu bukan sebesar apa dosaku di masa
lalu? Kau tidak pernah hidup dalam masa laluku, begitupun juga dengan aku. Kau
hanya mendengar namaku, tapi tidak dengan peluhku. Tapi, bukankah kau pernah
bercerita bahwa kau sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya menyesal pernah
membenci kehidupanmu hanya karena kau mengira kau telah tersesat dan salah
jalan rupanya?
Hey, kukatakan padamu, keretamu mungkin saja salah,
tapi boleh jadi ia membawamu ke tempat yang benar.
Ah, kau begitu lucu dan lugu sekali mempertontonkan
kepintaranmu sendiri sayang.
Sudah kubilang, aku tahu seperti apa dirimu yang
sesungguhnya. Kau sejatinya jauh lebih berharga karena kau pun adalah
orang-orang pilihan, sama sepertiku.
Aku bosan mengingatkanmu bahwa kita tetap harus
belajar untuk menjadi orang yang tidak saling kenal agar kita lebih dapat mengenal.
Kuharap kau akan mengerti. Terimakasih telah menjadi berkat bagiku dan
kehidupanku yang tidak akan pernah sempurna.
Sahabat, bukan orang tuaku yang akan memberikan arti
pada namaku, tapi dirimulah yang melakukannya. Kau telah cukup dewasa untuk
tidak lagi melakukan hal konyol seperti yang telah kulakukan. Jadilah anak
kecil yang selalu jujur pada diri sendiri. Jangan pernah bertanya untuk siapa
kau melakukannya.
Kau tidak perlu melakukannya untukku karena aku
sudah cukup tahu tentang hal itu. Justru karena kau telah mengalaminya, aku
harus kasar padamu.
Surat cinta ini kutulis untuk manusia spesial yang
tidak pernah mampu kupahami dengan rasioku. Untuk dirimu yang terlalu naif.
Untuk dirimu yang selalu mengandalkan ego demi damai diri yang keliru. Cuih!
Kau panggil aku pecundang, tapi sungguh, kaulah pecundang itu! Kau jauh lebih
takut dari diriku, orang yang kau anggap lebih lemah darimu karena semata
urusan selangkangan!
Sekarang kau tak dapat memahami seperti apa rasanya membunuh
boneka kesayangan ketika menjalani hari-hari buruk. Kau akan mengerti nanti,
setelah kau sadar kau pernah mengatakan padaku “sabar itu tak pernah salah”.
Sama seperti aku tidak dapat memahamimu kini, kau pun tidak mengerti mengapa
justru aku-lah-orang terdekat itu-yang telah membunuhmu dengan pedang.
Aku hanya ingin bilang bahwa aku sudah tak sanggup
memikul bebanmu. Aku telah memahamimu dengan jiwaku, karena aku adalah kamu
yang hidup. Aku adalah gambaran seutuhnya dirimu hari ini, bukan esok atau lusa
nanti.
Aku tidak tahu, apakah gambarku akan berubah atau
justru akan tetap seperti ini di masa yang akan datang. Tapi yang pasti itu
bukan urusanku, itu urusan Pengantiku yang Agung. Seperti katamu, milikku
adalah apa yang kujalani hari ini. Esok adalah misteri yang tak mampu aku jamah,
bahkan ketika aku sungguh-sungguh percaya
“Kau-lah cermin itu”. Kau-lah dia, sepotong jinggaku
yang hilang”
Sahabat…
Perempuan lemah sepertiku memang tidak pernah pantas
menelanjangi manusia hebat sepertimu. Tapi biarlah itu terjadi jika Pengantin
Hidupku menginginkannya. Aku sungguh hanya sebuah bola kertas di padang
belantara. Bukan aku yang menentukan hidupku. Aku hanya menjalaninya tanpa tahu
apa arti semua ini. Aku tidak pernah mengerti mengapa kemudian aku dipertemukan
dengan manusia sepertimu. Kau bisa mengatakan aku-lah yang memilih hidupku.
Tapi bukankah kau sendiri pun kadang ingin menyerah dengan pilihan ini?
Hanya Pengantinku-lah yang memiliki jawabannya. Aku,
kau, mereka dan kita hanyalah pajangan kemuliaanNya. Ia berhak membawa kita
kemana saja, termasuk ke jurang terdalam sekalipun. Aku pasrah untuk itu karena
memang seperti itulah hidup. Menerima hal yang tidak ingin kau terima seumur
hidupmu sebagai manusia normal.
Karena kerudungku dan kerudungmu ini hanya milikNya. Maka dari itu, aku memilih untuk berada di sampingmu, menelanjangimu berkali-kali hingga jenuh menggerogoti jantungku. Hingga suatu hari nanti kau akan bilang aku manusia paling munafik yang hanya sanggup berkata, sedang aku sendiri pun jauh dari kata sempurna karena masa laluku. Aku tidak peduli. Hari ini aku tidak ingin lari menjauh darimu, seperti yang selalu kau tekankan padaku. Hari ini tantangan terbesarku adalah menerima diriku dan dirimu yang adalah satu cermin itu. Kita akan menggunakan cermin yang sama seperti dahulu.


0 komentar:
Post a Comment