Tuesday, April 26, 2016

1:06:00 AM
1
Aku dan Teror Tak Terduga
 Oleh Mustariati 23 Februari 2016

Malam itu, tepatnya malam senin di Asrama PGSD Cimanuk seperti biasanya usai shalat magrib aku bersama teman-teman melanjutkan aktivitas makan malam, kemudian shalat isya dan dilanjutkan dengan kegiatan lain di kamar masing-masing. Pada pukul 23.00 WIB selesai online dan aktivitas lainnya, aku dan teman sekamarku mulai tidur. Seketika lagi nyenyaknya tidur, malam sudah sunyi tidak ada lagi satu suara pun terdengar, saat itu jam menunjukkan pukul 02.30 WIB, aku terbangun karena ingin memeluk bantal guling, nah kebetulan bantal guling terletak dikaki, aku berusaha mengambil bantal tersebut untuk kupelukknya. Seketika aku telah mengambil bantal guling, entah mengapa tiba-tiba aku melihat kearah atas pintu kamar yaitu ventilasi, ventilasi kamar kami itu terbuat dari kaca dan ada ruang udara di atasnya. Saat mataku tertuju ke ventilasi tersebut ternyata ada seseorang laki-laki, tidak tau itu siapa dan orang mana sedang mengintip aku dan teman sekamarku yang lagi tertidur pulas, aku terkejut setengah mati dengan apa yang kulihat. Dengan tubuh yang gementar dan jantung yang berdebar-debar aku menutupi mukaku dengan bantal. Rasa-rasanya maut sudah menjemputku pada malam itu, aku berusaha menahan ketakutan, tidak berani teriak bahkan untuk membangunkan teman disampingku saja tidak berani.
 Rasanya serba salah mau coba untuk menghubungi teman yang lain, takut dia berusaha masuk dan mendobrak pintu kamar kami, dan aku hanya bisa berdoa dalam hati, agar dia tidak berani masuk, tidak lama kemudian kembali aku mencoba melihat lagi pelan-pelan kearah atas pintu kamar dengan bersembunyi dibalik bantal untuk memastikan dia sudah pergi atau belum, dan alhamdulillah dia sudah keluar, namun anehnya tidak ada bunyi/suara tanda-tanda yang membuat aku curiga dia keluar dari ruangan kami. Setelah dia keluar, aku dengan suara yang gugup dan tubuh yang masih gementar, kubangunkan teman disampingku. Aku mengatakan apa yang telah terjadi, temanku pun ikut terkejut. “Lalu apa yang harus kita lakukan?” Tanya temannku. Ponselku tidak ada pulsa untuk menghubungi teman-teman kita yang lain, coba kamu hubungi teman kita yang laki-laki minta tolong untuk mengejar orang jahat itu, jelasku. Iya baiklah kalau begitu aku hubungi mereka. Setelah beberapa kali kami menghubungi awalnya tidak ada yang menerima telepon, kami coba hubungi lagi hingga akhirnya diterima, dengan kepanikan dan ketakutan kami menceritakan dengan singkat kejadian yang baru saja terjadi. Teman-teman yang laki-laki segera naik ke atas, kebetulan kamar kami di lantai atas. Dengan gagahnya mereka memegang parang, aku sempat tersenyum melihatnya, walaupun dalam keadaan gementar.  Tapi sayangnya dia sudah tidak ada lagi, dia sudah keluar beberapa menit yang lalu, ketika aku belum membangunkan teman. “Mana dia?” Tanya mereka, entah mungkin sudah keluar. “Jelasku”. Ah kenapa kamu tidak teriak saja? Tanya mereka. bagaimana mau teriak, rasanya aku mau mati malam ini juga, belum pernah seumur hidup aku mengalami hal seperti ini, “keluhku”. Akhirnya mereka turun ke bawah dan mengincar disekeliling asrama, tetapi tidak ketemu juga orang itu. Entah sudah kabur atau bersembunyi kami tidak tahu, yang jelas mereka sudah berusaha mencari. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB mata lelah sekali ingin tidur kembali, tapi tidak bisa, rasa ketakutan masih terus mempengaruhiku. Alangkah sialnya sementara lagi nyenyaknya tidur ada teror yang mengganggu kenyamanan kami perempuan, tersirat dalam benakku. Kembali berbaring di tempat tidur mulai terdengar suara tadarus Al-Quran di mesjid-mesjid yang tak lama kemudian dikumandangkan azan Shubuh, akhirnya baru sedikit terasa lega.
Walaupun demikian bukan berarti rasa takut dan waspada itu hilang begitu saja, semacam terpukul rasanya membuatku merasa tidak nyaman lagi tidur di Asrama. Karena aku yakin dia akan kembali mengintai ruangan-ruangan tempat kami perempuan beristirahat. Hari terus berlalu, dikala malam sudah tiba aku mulai merasa ketakutan dan gelisah akan peristiwa itu, merasa tidak nyaman sebelum tertangkap siapa pelaku sekeji itu. Kejadian ini merupakan ketakutan luar biasa yang pernah kualami. Semoga Tuhan menyadarkannya, untuk tidak lagi mengganggu orang-orang disekitar. Karena aksi mengintip sungguh perbuatan yang paling menjengkelkan bagi yang diintip.

1 komentar:

 
---Script Google analystic---