Aku
dan Teror Tak Terduga
Oleh Mustariati 23
Februari 2016
Rasanya serba salah mau coba untuk menghubungi
teman yang lain, takut dia berusaha masuk dan mendobrak pintu kamar kami, dan
aku hanya bisa berdoa dalam hati, agar dia tidak berani masuk, tidak lama
kemudian kembali aku mencoba melihat lagi pelan-pelan kearah atas pintu kamar
dengan bersembunyi dibalik bantal untuk memastikan dia sudah pergi atau belum,
dan alhamdulillah dia sudah keluar, namun anehnya tidak ada bunyi/suara
tanda-tanda yang membuat aku curiga dia keluar dari ruangan kami. Setelah dia
keluar, aku dengan suara yang gugup dan tubuh yang masih gementar, kubangunkan
teman disampingku. Aku mengatakan apa yang telah terjadi, temanku pun ikut
terkejut. “Lalu apa yang harus kita lakukan?” Tanya temannku. Ponselku tidak
ada pulsa untuk menghubungi teman-teman kita yang lain, coba kamu hubungi teman
kita yang laki-laki minta tolong untuk mengejar orang jahat itu, jelasku. Iya
baiklah kalau begitu aku hubungi mereka. Setelah beberapa kali kami menghubungi
awalnya tidak ada yang menerima telepon, kami coba hubungi lagi hingga akhirnya
diterima, dengan kepanikan dan ketakutan kami menceritakan dengan singkat
kejadian yang baru saja terjadi. Teman-teman yang laki-laki segera naik ke
atas, kebetulan kamar kami di lantai atas. Dengan gagahnya mereka memegang
parang, aku sempat tersenyum melihatnya, walaupun dalam keadaan gementar. Tapi sayangnya dia sudah tidak ada lagi, dia
sudah keluar beberapa menit yang lalu, ketika aku belum membangunkan teman.
“Mana dia?” Tanya mereka, entah mungkin sudah keluar. “Jelasku”. Ah kenapa kamu
tidak teriak saja? Tanya mereka. bagaimana mau teriak, rasanya aku mau mati
malam ini juga, belum pernah seumur hidup aku mengalami hal seperti ini,
“keluhku”. Akhirnya mereka turun ke bawah dan mengincar disekeliling asrama, tetapi
tidak ketemu juga orang itu. Entah sudah kabur atau bersembunyi kami tidak tahu,
yang jelas mereka sudah berusaha mencari. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00
WIB mata lelah sekali ingin tidur kembali, tapi tidak bisa, rasa ketakutan
masih terus mempengaruhiku. Alangkah sialnya sementara lagi nyenyaknya tidur
ada teror yang mengganggu kenyamanan kami perempuan, tersirat dalam benakku.
Kembali berbaring di tempat tidur mulai terdengar suara tadarus Al-Quran di
mesjid-mesjid yang tak lama kemudian dikumandangkan azan Shubuh, akhirnya baru
sedikit terasa lega.
Walaupun demikian bukan berarti rasa takut dan
waspada itu hilang begitu saja, semacam terpukul rasanya membuatku merasa tidak
nyaman lagi tidur di Asrama. Karena aku yakin dia akan kembali mengintai
ruangan-ruangan tempat kami perempuan beristirahat. Hari terus berlalu, dikala
malam sudah tiba aku mulai merasa ketakutan dan gelisah akan peristiwa itu,
merasa tidak nyaman sebelum tertangkap siapa pelaku sekeji itu. Kejadian ini
merupakan ketakutan luar biasa yang pernah kualami. Semoga Tuhan
menyadarkannya, untuk tidak lagi mengganggu orang-orang disekitar. Karena aksi
mengintip sungguh perbuatan yang paling menjengkelkan bagi yang diintip.

;((
ReplyDelete