SENIN YANG TAK BIASA
(Nafsiah Purnamasari)
Hari ini aku bangun tidak terlalu
terlambat. Hampir menjelang subuh jam wekerku tiba-tiba berbunyi. Samar-samar
hampir tidak terdengar bunyi alarmnya kali ini. Kretek...Kretek...Kretek.
Seperti bunyi jam yang hampir rusak, tidak seperti biasanya. Aku segera
terbangun. Ku hampiri jam kecil yang belum lama ku beli itu dengan sisa-sisa
mimpiku yang masih membias. Yah, mungkin sebentar lagi aku harus menggantinya
dengan yang baru, pikirku.
![]() |
| SENIN YANG TAK BIASA |
Seperti biasa, hari senin ini kami akan
mengikuti upacara bendera di lapangan kampus. Tepat pukul 07.00 pagi, kami
semua sudah harus berada di sana. Aku segera menyiapkan diriku lebih awal
sebelum terlambat. Makan dan mandi menjadi kegiatan prioritasku dibanding
kegiatan lainnya. Karena tanpa kedua kegiatan itu di pagi hari, rasa-rasanya
tubuhku akan enggan untuk memulai aktivitas.
Pukul 06.55 pagi. Sebentar lagi upacara
akan segera dimulai. Aku mempercepat langkahku menuju lapangan kampus yang
letaknya tidak terlalu jauh dari asrama, tempat tinggalku yang sekarang. Hatiku
sedikit lega saat ku lihat lapangan upacara yang masih kosong. Baru aku dan seorang
temanku yang tiba di situ.
“DIHARAPKAN KEPADA SELURUH MAHASISWA UNTUK
SEGERA KE LAPANGAN. SEBENTAR LAGI UPACARA AKAN DIMULAI!”
Begitulah suara pengumuman yang kami
dengar setiap akan memulai upacara. Pemilik suara itu tidak salah lagi.
Pengurus HIMA yang senantiasa setia mengurus mahasiswa yang seharusnya tidak
perlu diurus lagi. Beberapa waktu kemudian, seisi lapangan penuh dengan
mahasiswa. Upacara pun dimulai. Dan semua berjalan seperti biasa bagiku, tiada
yang menyenangkan di hari senin ini.
Mata kuliah pertama dimulai. Ini kali
pertama kami bertemu dengan dosen yang ada di hadapan kami saat ini. Orangnya
tidak terlalu tinggi, dan juga tidak terlalu pendek. Tubuhnya juga tidak gemuk
dan juga tidak kurus. Bagiku bapak dosen yang mengajari kami "Apresiasi dan
Ekspresi" ini terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa bagiku.
Namun, setelah mengikuti pelajaran bersama
bapak itu. Perlahan-lahan, pikiranku mulai berubah. Bapak itu spektakuler.
Begitu banyak pelajaran yang bisa aku dapati dari bapak itu. Yang paling ku
ingat dari kata-kata yang keluar dari lisan mutiaranya itu: “Jangan pernah
menilai seseorang hanya dari kulit luarnya saja”.
Aku tersentak saat mendengar perkataan yang
keluar dari mulut bapak itu. Rasa-rasanya perkataan itu seperti
tertuju padaku. Dengan segera aku tersadar, aku sering menilai seseorang dari
kulit luarnya saja. Sama seperti saat pertama kali aku melihat bapak itu. Dan
aku salah telak. Bapak membuatku menempatkan rasa istimewa di setiap kali aku
mendengarkan kata-katanya.
Bukan hanya itu, bapak juga mengatakan
sesuatu yang juga menyentuh perasaanku. “Tetaplah bangga dengan kedua orang
tuamu, walau bagaimana pun keadaanya”. Yah. Itulah yang seharusnya terjadi. Aku
menjadi semakin bangga dan bersyukur memiliki kedua orang tuaku entah bagaimana pun apa yang dikatakan orang.
Dan masih ada satu lagi hal yang juga ku
ingat. Bapak berpesan bahwa dalam hidup, hendaknya kita memiliki visi, tujuan, hal-hal yang ingin kita
capai dalam kehidupan, agar kita tidak sekedar mengalir mengikuti
arus kehidupan. Seperti sampah yang mengapung di atas permukaan sungai. Hanya
bergerak mengikuti arus air itu. Hilang arah.
Aku mulai merangkak dengan pikiranku yang
mulai berubah setelah mendengar perkataan-perkataan yang seperti panah itu. Aku
harus berubah. Cita-citaku harus aku capai. Untukku. Dan kedua orang tuaku.
Hal itu menjadikan hari seninku kali ini tidak seperti biasanya. Istimewa.


This comment has been removed by the author.
ReplyDelete