Wednesday, April 27, 2016

8:59:00 AM
1
SENIN YANG TAK BIASA
(Nafsiah Purnamasari)
Hari ini aku bangun tidak terlalu terlambat. Hampir menjelang subuh jam wekerku tiba-tiba berbunyi. Samar-samar hampir tidak terdengar bunyi alarmnya kali ini. Kretek...Kretek...Kretek. Seperti bunyi jam yang hampir rusak, tidak seperti biasanya. Aku segera terbangun. Ku hampiri jam kecil yang belum lama ku beli itu dengan sisa-sisa mimpiku yang masih membias. Yah, mungkin sebentar lagi aku harus menggantinya dengan yang baru, pikirku.

SENIN YANG TAK BIASA
SENIN YANG TAK BIASA
Walau jam baru menunjukkan pukul 05. 00 pagi, aku merasa aku sudah kehilangan beberapa waktuku yang aku targetkan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Mau bagaimana lagi? Terpaksa aku mempercepat semua pekerjaanku, menyingkatkan waktu pengerjaanya, dan mengabaikan pekerjaan-pekerjaan yang ku anggap belum terlalu penting untuk aku lakukan pagi ini.
Seperti biasa, hari senin ini kami akan mengikuti upacara bendera di lapangan kampus. Tepat pukul 07.00 pagi, kami semua sudah harus berada di sana. Aku segera menyiapkan diriku lebih awal sebelum terlambat. Makan dan mandi menjadi kegiatan prioritasku dibanding kegiatan lainnya. Karena tanpa kedua kegiatan itu di pagi hari, rasa-rasanya tubuhku akan enggan untuk memulai aktivitas.
Pukul 06.55 pagi. Sebentar lagi upacara akan segera dimulai. Aku mempercepat langkahku menuju lapangan kampus yang letaknya tidak terlalu jauh dari asrama, tempat tinggalku yang sekarang. Hatiku sedikit lega saat ku lihat lapangan upacara yang masih kosong. Baru aku dan seorang temanku yang tiba di situ.
“DIHARAPKAN KEPADA SELURUH MAHASISWA UNTUK SEGERA KE LAPANGAN. SEBENTAR LAGI UPACARA AKAN DIMULAI!”
Begitulah suara pengumuman yang kami dengar setiap akan memulai upacara. Pemilik suara itu tidak salah lagi. Pengurus HIMA yang senantiasa setia mengurus mahasiswa yang seharusnya tidak perlu diurus lagi. Beberapa waktu kemudian, seisi lapangan penuh dengan mahasiswa. Upacara pun dimulai. Dan semua berjalan seperti biasa bagiku, tiada yang menyenangkan di hari senin ini.
Mata kuliah pertama dimulai. Ini kali pertama kami bertemu dengan dosen yang ada di hadapan kami saat ini. Orangnya tidak terlalu tinggi, dan juga tidak terlalu pendek. Tubuhnya juga tidak gemuk dan juga tidak kurus. Bagiku bapak dosen yang mengajari kami "Apresiasi dan Ekspresi" ini terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa bagiku.
Namun, setelah mengikuti pelajaran bersama bapak itu. Perlahan-lahan, pikiranku mulai berubah. Bapak itu spektakuler. Begitu banyak pelajaran yang bisa aku dapati dari bapak itu. Yang paling ku ingat dari kata-kata yang keluar dari lisan mutiaranya itu: “Jangan pernah menilai seseorang hanya dari kulit luarnya saja”.
Aku tersentak saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut bapak itu. Rasa-rasanya perkataan itu seperti tertuju padaku. Dengan segera aku tersadar, aku sering menilai seseorang dari kulit luarnya saja. Sama seperti saat pertama kali aku melihat bapak itu. Dan aku salah telak. Bapak membuatku menempatkan rasa istimewa di setiap kali aku mendengarkan kata-katanya.
Bukan hanya itu, bapak juga mengatakan sesuatu yang juga menyentuh perasaanku. “Tetaplah bangga dengan kedua orang tuamu, walau bagaimana pun keadaanya”. Yah. Itulah yang seharusnya terjadi. Aku menjadi semakin bangga dan bersyukur memiliki kedua orang tuaku entah bagaimana pun apa yang dikatakan orang.
Dan masih ada satu lagi hal yang juga ku ingat. Bapak berpesan bahwa dalam hidup, hendaknya kita memiliki visi, tujuan, hal-hal yang ingin kita capai dalam kehidupan, agar kita tidak sekedar mengalir mengikuti arus kehidupan. Seperti sampah yang mengapung di atas permukaan sungai. Hanya bergerak mengikuti arus air itu. Hilang arah.
Aku mulai merangkak dengan pikiranku yang mulai berubah setelah mendengar perkataan-perkataan yang seperti panah itu. Aku harus berubah. Cita-citaku harus aku capai. Untukku. Dan kedua orang tuaku.
Hal itu menjadikan hari seninku kali ini tidak seperti  biasanya. Istimewa.

1 komentar:

 
---Script Google analystic---