Tuesday, April 26, 2016

8:31:00 AM
7
Suatu pagi di Asrama Cimanuk PGSD UNIB.

Tiga ekor kucing melangkah manis melewati koridor. Tiba-tiba...
"Hitammm, Putihhh, Manissss...makannn.." teriak salah seorang penghuni asrama Closter B. Panggil saja Abang. Belahan rambut klimis dengan kedua sisi yang dicukur habis membuat kegantengannya mencuat. Bukan itu saja, kemeja lengan panjang bermotif besurek ditambah celana pleated dan wangi parfum turut menambah gagah sosok calon guru yang satu ini. Ah, jangan ditanya berapa derajat tampannya ia sekarang. Kurasa sudah cukup untuk menarik perempuan satu asrama. Tapi, tunggu...rupanya pagi ini ia tidak sedang berniat untuk bergaya karena titik fokusnya mulai bergeser dari yang semula berorientasi pada manusia dan perempuan, beralih menjadi hewan dan habibat. Dan sejak kapan asrama ini beralih menjadi habitat?

Entah siapa penggagas sekaligus pendiri 'panti sosial' bagi kucing-kucing rumah terlantar tanpa ayah-ibu ini. Aku tidak begitu tahu soal itu. Yang pasti, aku masih mengingat beberapa variasi kucing yang sempat malang melintang di dunia asrama. Ada yang namanya pendekar mata satu lah, kucing anjing lah, kucing jahanam dan apa lagi? Aku tidak begitu fasih menamai tiap kucing karena bagiku dimana-mana kucing selalu sama. Punya mata dua, hidung satu, cakar tajam nan imut, ekor dan kumis tipis. Opsi yang terakhir itu masuk dalam cermin pria sejati versi anak asrama PPGT. Kata mereka (pria-pria yang menyebut dirinya pria tulen), lelaki sejati adalah lelaki dengan bulu-bulu halus di sekitar bibir. Bah, model macam apa lagi itu? Kurasa mereka benar-benar sedang meniru gaya kucing-kucing rumahan itu ketika sedang beraksi di depan betinanya. Sudahlah, mari lupakan sejenak tentang darimana dan sejak kapan semua bermula. Aku ingin kau bertemu dengan beberapa orangtua pengasuh anak-anak kucing penghuni asrama kami.




Serius nian Si Abang ko
Laki-laki yang baru terpampang di wajahmu itu adalah si Abang. Ayah dari Hitam, Putih dan Manis, juga suami dari Nyai. Adalah istri tercintanya, Bunda Nyai yang memperkenalkan Abang pada ketiga kucing itu. Seingatku, di setiap kesempatan makan Bunda Nyai tak pernah lupa untuk memanggil dan mengingatkan ketiga anak asuhnya agar makan. Entah pagi, siang atau malam. Kau akan dibuatnya bosan dengan teriakan mirip emak-emak kehilangan anak semata wayang. Jangan salah, tentunya teriakan itu dilandasi oleh rasa kasih sayang dan perhatian yang setara, layaknya ibu bagi anak. Dan, terlebih kau akan terkejut ketika mendapati Bunda Nyai yang berkata
"Makan dulu nak" sambil mengelus-elus bulu masing-masing kucing.
Nyaiku yang satu ini paling hafal dimana ketiga anaknya bersembunyi untuk bermain. Ia juga tak akan segan-segan untuk menggendong ketiganya sekaligus. Sungguh, naluri keibuannya dapat kau saksikan di detik yang sama ketika ia dengan serius memperhatikan perkembangan buah hatinya. Aku selalu terdiam dibuatnya. Kadang aku bertanya
"Bagaimana jika suatu hari nanti ia memiliki anak manusia dan anak kucing? Anak manakah yang akan ia pilih?

Lain lagi dengan si Abang yang akan membuatmu terkecoh dengan pernyataan
"Kalau mau makan, duduk dulu nak, jangan berdiri seperti itu".
Kau mungkin akan menyeletuk
"Ada-ada saja tingkah manusia"
Atau bertanya "Bukankah buah hatinya hanyalah kucing? Mengapa pula menyuruh seekor anak kucing duduk? Bukankah sama saja dengan melawan kodrat kebinatangannya?'

Baik... Aku mengerti gundahmu. Tinggalkan dahulu. Biarlah aku bercerita tentang seorang lagi pengasuh kucing-kucing malang kami.

Siapa lagi ni ko?

Kau melihat kucingnya bukan?
Ya, namanya Oi. Satu-satunya kucing bercorak polkadot yang anggun di asrama kami. Kau pasti akan bertanya siapa perempuan yang asyik di samping Oi?
Kami menyebutnya 'Mama Oi'. Ya, siapa lagi kalau bukan ibu pengasuh Oi.
Berbicara tentang Oi, aku tidak begitu mengenalnya sejak awal kedatangannya di asrama atau sejak kapan ia diasuh. Sedikit banyak yang kutahu adalah Oi-begitu ia akrab disapa- adalah kucing yang berhasil diadopsi berkat tangan dingin dan kedekatan Abang dan Bunda Nyai. Maksudku, mungkin awalnya Mama Oi tidak berniat menerima tamu di kamarnya (apalagi ini kucing rumahan). Tapi, semenjak melihat kasih sayang Abang dan Bunda Nyai, Mama Oi lalu tertarik. Hingga sekarang yang paling aku yakini mengapa Mama Oi berniat mengasuh anak kucing seperti Oi karena sudah terlanjur jatuh cinta dengan manisnya polka di sekujur tubuh Oi. Ini yang paling membedakan Oi dengan kucing-kucing lainnya di asrama. Apalagi ketika ia tertidur (perhatikan baik-baik foto di atas), aku yakin kau akan gemas dan mengira ia anak bayi.
Lain Abang, lain pula Mama Oi. Keempat kucing asrama ini begitu istimewa di mata kami. Karena selain mereka diberi nama, mereka juga punya tempat makan khusus dengan jam makan yang telah diatur oleh masing-masing orang tua asuhnya. Kau dapat menjumpai mereka sedang berbaring bersama orang tuanya. Apalagi Si Abang, separuh dari tempat tidurnya bahkan ia hibahkan untuk ditiduri kucing-kucing itu. Ah, bukan main sayangnya. Sedikit berbeda dengan Hitam, Kucing dan Manis, Oi rupanya jauh lebih beruntung karena setelah dimandikan ia juga dikeringkan dengan hair dryer plus tempat tidur sendiri. Aku membayangkan berada di posisi kucing yang satu ini. Betapa beruntungnya ia diperlakukan seperti itu. Aku saja bahkan jarang memperlakukan diriku sendiri seistimewa itu.

Dan... coba tebak? Beberapa hari terakhir, kucing rumahan kami bertambah dengan hadirnya anak Bapa Max yang imut nan lucu. Anak kucing yang diberi nama Inong ini lebih malang dari keempat kucing lainnya. Mungkin karena keberadaannya belum sah diakui oleh salah satu penghuni asrama. Aku pernah mendengar kabar miring bahwa anak kucing ini tersesat dan tidak diakui ibunya sendiri sehingga kembali ke pangkuan ayahanda tercinta. Wah, jantungku kembali berdetak dan bertanya
"Kira-kira siapa ibu yang melahirkannya?"
Ada pula yang menambah tegang suasana seperti ini
"Duh, kasian ya. Sudah tidak memiliki ibu, ditelantarkan pula oleh Ayah"
Lain lagi dengan komentar salah seorang teman
"Wah, Bapaknya hanya mau enaknya saja. Eh, giliran sudah ada anaknya, malah ditinggalkan juga"
Lebih sadis lagi yang ini
"Katanya Bapak, tapi koq tidak memberi makan anaknya ya? Dimana nalurinya sebagai seorang ayah?"

Kejadian-kejadian sederhana seperti ini membuatku merasa menjadi manusia seutuhnya manusia. Aku yakin, kau akan kembali bertanya
"Apa artinya menjadi manusia seutuhnya manusia, bukan?"
Mari pulang... biar kujelaskan sedikit seperti apa itu
Jika ingin kembali mengingat sejak kapan kucing-kucing itu menghantui kami, aku selalu dihadapkan dengan pilihan yang sama untuk memutar memori dua tahun silam ketika mata kaki kami, penghuni asrama Cimanuk, PPGT Angkatan 2013 mencium bau tanah Bengkulu. Kami sudah pasti mengingat tanggal berapa kami tiba di tempat terasing ini. Tapi, siapapun dari kami tidak pernah tahu kapan kami menganggap semua yang bernyawa di dalamnya adalah satu keluarga, satu payung dengan slogan andalan 'Rencong Komodo, Ngayauuuu'.
Jika kau bertanya seperti apa rasanya menikmati hidup dalam keluarga besar dengan jumlah anggota sebanyak 34 orang, aku yakin kau pun akan memiliki pandangan sama sepertiku.
Kadang kau bisa tertawa lepas, cekikikan, kadang bisa menangis, kadang kompak sekali dengan embel-embel Rencong Komodo Ngayau (khusus event-event yang berlangsung di FKIP atau PGSD), kadang juga berkelahi tak tahu diri, rebut air sana sini, bahkan maki dengan seenaknya. Lakukan semaumu apa yang ingin kau lakukan karena tidak ada yang akan melarangmu. Tapi, jangan salah paham dulu. Kami mendapatkan semua kebebasan karena sudah saling mengenal dengan baik satu sama lain. Dan kau tahu apa ujung-ujungnya? Yap, segala sesuatu yang telah terjadi baik menegangkan ataupun membahagiakan selalu bisa menjadi bahan untuk ditertawakan. Entah bagaimana sesuatu yang sebenarnya pantas untuk dipikirkan beralih fungsi menjadi 'pantas untuk ditertawakan'. Tapi kurasa itulah seninya hidup. Menertawakan untuk kemudian dipikirkan.

Aku menamai kisahku dengan kata sederhana 'Panti Sosial'. Mau tahu kenapa?
Karena semua kami yang berada di tempat ini tak ubahnya seperti kucing-kucing malang itu. Seingatku, kami bahkan pernah bangga sekali mengatakan bahwa kami ini anak terlantar yang dipelihara negara. kadang aku sendiri geli mengingat betapa tumbennya kami menghafal salah satu butir yang tertuang dalam undang-undang negara ini. Negara memang baik karena telah menitipkan kami yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama yang berbeda dalam satu rumah besar bernama PPGT.
Tak jarang ketika melihat segala bentuk perhatian yang diterima kucing-kucing manis itu dari pengasuhnya, aku dan beberapa teman menyunggingkan senyum simpul, tanda tak mengerti. Namun, kami lebih memilih membiarkan itu terjadi karena unik dan memberikan warna cerita yang tak biasa bagi hari-hari kami selama masih menghirup udara Bengkulu yang panas. Sama seperti ketika aku bertanya, mungkinkah seekor anak kucing di-didik menjadi manusia, di saat yang sama aku seolah kembali bertanya pada diriku sendiri
"Mungkinkah manusia di-didik menjadi hewan?"
Mungkin saja, karena bukankah kita begitu dekat dengan mereka layaknya kita mendekati kehidupan kita masing-masing?
Dan mungkin saja, kita pun pernah di-didik secara tidak langsung oleh hewan-hewan yang semula kita anggap liar dan tak berayah-ibu itu untuk menjadi benar-benar manusia layaknya orang tua pengasuh-sahabat kita- yang tak pernah berhenti mencoba mencintai hewan-hewan malang itu.
Bukankah segala sesuatunya dapat mungkin terjadi?
Kita memang selalu dapat menjadi manusia sesungguhnya berkat hewan dan menjadi hewan berkat rasa manusia yang melekat secara naluriah dan memiliki batas...
Sudahkah kita menjadi manusia dengan belajar dari hewan di sekeliling kita?

Mari belajar menjadi manusia yang sesungguhnya manusia karena tidak ada manusia yang sempurna. Hanya ada manusia yang terus belajar membenahi diri.
Mengutip pernyataan saudari Nafsiah "Jika aku salah, maka tegurlah aku"


Kisah ini kutulis untuk malam-malam hangatku yang telah kulalui bersamamu di Bengkulu.
Selamat malam dan selamat tidur...

7 komentar:

 
---Script Google analystic---